Oleh: Alja Yusnadi
Revolusi media sosial berlangsung dalam waktu yang sangat cepat. Bahkan sangat cepat bila dibanding dengan pergeseran peradaban manusia. Bayangkan, perlu waktu beribu-ribu tahun untuk bergeser dari Nomaden, Neo Litik, Peradaban Kuno, Zaman Klasik, Abad Pertengah, Revolusi Industri, hingga era digital seperti sekarang ini.
Tidak demikian halnya dengan media sosial. Tiktok misalnya, di awal kemunculannya, aplikasi ini identik dengan joget-joget, dan saya memilih untuk tidak menginstalnya, bukan apa-apa, selain sudah tidak lagi muda, saya takut dilihat anak dan dilihat istri. Sekarang, revolusi Tiktok terjadi besar-besaran, Tiktok muncul sebagai media sosial yang paling banyak digunakan, paling friendly. Mulai dari yang ektrem kiri, hingga ektrem kanan ada di situ, bahkan bisa menghasilkan uang.
Saya bukan membicarakan Tiktok, tapi sesuatu yang saya ditemukan di dalamnya. Kemarin, di saat saya lagi scrolan, muncul seorang anak muda yang sudah kaya raya. Dia menyampaikan kisah Warren Buffett dan Bill Gates dalam sebuah acara talk show. Anda pasti sudah tahu—setidaknya pernah dengar–siapa kedua orang tua itu. Keduanya ditanya oleh pembawa acara, apa kunci sukses, mereka diminta untuk menuliskan kunci sukses itu dalam satu kata. Baik Buffett maupun Gates menulis hal yang sama, yaitu: FOKUS. Saya sengaja menulis dalam hurus kapital, sebagai penanda sesuatu yang penting.
Anak muda itu adalah Andri Hakim. Dia sering muncul di podcast. Di usia muda Andri sudah memiliki kekayaan yang melimpah-ruah, apalagi dibandingkan dengan apa yang baru saya capai. Selain Timothy Ronald, Andri adalah anak muda yang sering muncul di Tiktok saya. Mereka pemain saham. Bayangkan saja, usia di bawah 30 tahun sudah memiliki peternakan uang. Mereka rasional, cara mereka bicara menyentuh akal.
Begitu pentingnya Fokus. Termasuk Andri juga fokus menjalankan usahanya. Ayahnya juga seorang pengusaha. Dia bekerja keras setelah mendengar ucapan ayahnya. Baginya, itu cambukan. Dia fokus pada ucapa ayahnya itu. Bahkan, dia membeli mobil dengan harga 4-5 Milyar rupiah untuk menunjukkan kepada ayahnya, bahwa dia bisa kaya, tanpa melanjutkan usaha warisan. Sekilas kedengaran sombong. Dengan kesadaran itu membuat Andri tumbuh sebagai anak dengan mental baja.
Fokus itu berarti pusat, titik perhatian. Jika kita fokus pada sesuatu, arahkanlah segala yang kita miliki pada sesuatu itu. Bagi Anda yang masih jomblo misalnya, fokuslah pada target yang ingin Anda tuju. Mungkin, Anda bisa memulainya dengan merumuskan karakter khusus laki-laki atau Perempuan yang ingin Anda tuju. Mungkin, dalam kerangka itu pula mabuk cinta agak rumit untuk dijelaskan, karena terlalu fokus.
Seorang ulama besar pernah memberi nasehat, “apakah Anda kira orang-orang yang terkenal itu berlatih seadanya? Seorang Gitaris belajar memetik gitar selama 4 jam sehari, begitu juga pelari, mereka berlatih dengan teratur, juga demikian dengan perenang, pemain bola. Mereka jadi ahli setelah melewati Latihan yang tidak ringan. Jadilah mereka seperti yang kalian lihat saat ini, betapa piawainya mereka. Begitu juga dengan zikir ini, kalian harus melakukannya dengan rutin, berlatih di bawah bimbingan guru”
Begitu juga dengan hal-hal lainnya. Tetapkanlah apa yang menjadi perhatian Anda. Pelajarilah metodenya dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Fokus itu diperlukan dalam urusan apa saja, mulai dari hal buruk seperti merampok, sampai hal baik seperti mengurus negara, daerah, masyarakat. Demikian pula dengan apa yang sedang terjadi di daerah penghasilan pala. Ada yang mengatakan itu dulu, sekarang sudah mulai berkurang hasil palanya.
Pengelola pemerintah harus fokus pada apa yang ingin dicapai. Secara legal tujuan itu ada di dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah yang tebal nya melebihi bantal tidur itu. Itu dokemen ada isinya bukan pembalut martabak di Peukan Sabtu. Fokus itu juga ada ilmunya.
Berkuasa itu perlu fokus. Menjadi lawan yang berkuasa juga perlu fokus. Menjadi dewan juga perlu fokus. Menjadi pengkritik juga harus fokus. Fokuslah pada apa yang Anda inginkan atau pada apa tugas Anda.
Seperti khatib di mimbar Jumat, yang menghimbau dirinya dan jamaah, saya juga menghimbau diri saya untuk fokus dan para pembaca sekalian. Yang memerintah, fokuslah memerintah, yang mengawasi, fokuslah mengawasi, yang mengkritik fokuslah mengkritik…[Alja Yusnadi]












