Jakarta – Kampung anyaman bambu di Kampung Cikiray, Tasikmalaya jadi sentra ragam anyaman di mana 90% masyarakatnya sebagai pengrajin anyaman bambu.
Kampung Cikaray letak tepatnya berada di Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, yang jaraknya kurang lebih 50 menit dari pusat kota. Sekretaris Desa Salawu, Iis Sulastri, menjelaskan terdapat 600 kepala keluarga di desa itu dan sebagian besar menjadi pengrajin.
“Ya sekitar 90 persen lebih penduduknya sebagai penganyam bambu. Ada 600 kepala keluarga lebih yang menetap, dan hampir semua jadi penganyam bambu,” kata Iis dilansir dari detikJabar, Jumat (14/2/25).
Saban hari rumah-rumah di Kampung Cikiray dipenuhi kesibukan orang-orang yang menganyam. Warga memilih teras rumah sebagai tempat menganyam kerajinan. Berbagai jenis produk anyaman bambu dihasilkan seperti tampah, bakul tradisional, lampu hias, kotak tisu, kotak air mineral hingga keranjang parsel.
Hebatnya lagi produk anyaman warga sudah dijual ke berbagai kota di Indonesia. Bahkan, anyaman berbentuk hiasan lampu serta kotak tisu bambu sudah diekspor ke Jepang dan Malaysia.
“Produknya sudah ada yang diekspor sampai Jepang dan Malaysia. Tentu ini jadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Di samping secara finansial kebutuhan ekonomi masyarakat terpenuhi,” sebut Iis Sulastri.
Akibat keunikanya, Kampung Cikiray jadi salah satu bagian desa wisata. Pelancong bisa datang ke kampung untuk membeli langsung kerajinan tangan. Kesenian tradisional tutunggulan dan angklung disiapkan untuk menyambut para wisatawan.
“Karena karakteristik dan keunikannya, kampung ini jadi bagian desa wisata yang kami siapkan. Kemarin juga ada kunjungan dari Jogja. Alhamdulillah makin dikenal,” jelas Iis.
Seorang perajin yang juga ketua RT di Cikiray, Nandang Sutisna mengaku kegiatan menganyam bambu sudah turun temurun sejak ratusan tahun silam. Bahkan, di lokasi juga tersedia pelatihan anyaman bagi pemula.
“Ya sudah ratusan tahun ini mah turun temurun dari kakek buyut. Kita biasa menganyam belajar otodidak walau sekarang mah ada pelatihannya,” ucap Nandang Sutisna.
Perekonomian masyarakat terbantu dengan aktivitas menganyam ini. Meski untuk hasil yang maksimal dibutuhkan suntikan modal besar.
“Ya perhatian Pemerintah Kabupaten Tasik, adalah. Kami tentu berharap ada permodalan lain. Menjaga keberlangsungan penganyam ini jadi tugas bersama. Supaya generasi kami bisa menyenangi anyaman kalau hasilnya baik,” kata Nandang.
Sumber:https://travel.detik.com/travel-news/d-7778090/kampung-anyaman-di-tasikmalaya-produknya-diminati-pasar-malaysia-jepang