Oleh: Prof. Bayu Krisnamurthi
Kopi Gayo adalah salah satu ikon kopi Indonesia yang telah dan diakui dikenal secara internasional. Kopi Gayo juga menjadi salah satu produk ekspor andalan Aceh dan sebagai sumber pendapatan penting bagi petaninya. Selain itu, Kopi Gayo juga menjadi salah satu jenis kopi yang diminati konsumen dengan banyak penikmat Kopi Gayo yang setia dengan rasanya. Namun, ketika hendak memesan secangkir kopi Gayo di sebuah café di Jakarta baru-baru ini, baristanya meminta maaf karena pasokan ‘roasted been’ kopi Gayo sedang terganggu akibat bencana banjir. Mungkin kondisi ini hanya berlaku untuk satu café itu saja, mungkin juga untuk banyak café yang lain. Sinyal terganggunya rantai pasok kopi Gayo – dan juga produk-produk pertanian lain dari daerah terdampak bencana, perlu mendapatkan perhatian serius; dan juga perlu segera direncanakan proses rehabilitasi dan rekonstruksinya.
Informasi per 17 Desember 2025 dari Dinas Pertanian dan Pekebunan Aceh menunjukkan bahwa terdapat sekitar 2000 hektar kebun kopi – sebagian besar kopi Arabica – yang terdampak banjir bandang, tersebar antara lain di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Sebenarnya luasan tersebut relatif kecil – hanya sekitar 2,5% – dibandingkan 76 ribu hektar total luas kebun kopi yang telah menghasilkan di Aceh. Namun, bagi petani yang mengusahakannya – diperkirakan ada sekitar 1.300 keluarga – dampak yang dirasakan bagi kehidupan mereka tentu sangat berat.
Di samping itu, 2000 hektar di atas adalah kebun yang terdampak banjir bandang secara fisik. Hujan yang lebat dan mungkin juga angin kencang yang melanda akibat Siklon Senyar di Selat Malaka bisa saja berdampak pada perkembangan pembungaan dan pembuahan tanaman kopi Gayo di luar kebun terdampak banjir bandang.Oleh sebab itu, diperlukan penelaahan mendalam akibat dari bencana hidro-meteorologi yang terjadi terhadap produksi kopi.
Terdapat beberapa dimensi agribisnis kopi yang perlu ditelaah. Pertama, kuantitas produksi biji kopi yang terpengaruh, baik karena kebunnya atau pohonnya yang memang rusak diterjang banjir, maupun pengaruh bencana terhadap kemampuan pohon menghasilkan biji yang baik meskipun fisik pohonnya sendiri masih tetap bertahan. Kedua, kualitas biji kopi yang dihasilkan. Sebagai ‘speciality coffee’, yang menjadi nilai utama kopi Gayo adalah kualitasnya, rasanya, fiturnya; bukan hanya jumlahnya. Ketiga, kondisi petaninya, apakah masih mampu dan dapat menjalankan kegiatan budidaya kopi (termasuk panen dan pengolahan pertama) dengan baik. Kekurangan tenaga kerja dapat menjadi masalah yang serius meskipun pohon kopinya sendiri masih tetap bertahan. Keempat, kondisi sistem agribisnisnya, terutama pada pelaku-pelaku usaha yang selama ini menjalankan rantai pasok kopi di daerah itu, termasuk para pengumpul dan pedagang. Kelima, kondisi prasarana dan sarana logistik kopi; yang tentu berhubungan dengan keterbukaan akses, jalan dan jembatan yang berfungsi baik, kemudahan truk pengangkut memasuki daerah sentra produksi, listrik dan internet yang berfungsi baik, dan adanya gudang penyimpanan.
Dengan asumsi sisi permintaan kopi Gayo – di dalam dan di luar negeri – tetap terjaga, salah satu dari kelima komponen di atas terganggu, maka akan berakibat pada keseluruhan sistem agribisnis kopi dan menyebabkan pasokan dapat berkurang.
Jika hasil penelaahan (assessment) di atas telah diperoleh, dan permasalahan riil diketahui, serta proyeksi perbaikan sekaligus proyeksi produksi dapat dilakukan; proses rehabilitasi dan rekonstruksi perlu segera dilakukan secara terkoordinasi. Dalam hal ini koordinasi terutama perlu difokuskan antara hal-hal yang memang hanya pemerintah yang dapat melakukan (pembangunan kembali infarstruktur, pembukaan akses jalan dan logistik), peran asosiasi atau kelompok tani (perbaikan kebun atau sarana produksi), dan dengan dukungan semua pihak dalam rantai pasok (termasuk konsumen dan lembaga pembiayaan).
Proses tersebut sangat mengkin akan berjalan lama, berbulan-bulan; baik hingga sistem agribisnisnya pulih atau petani dan sistem itu kemudian mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah. Apapun, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kehidupan sehari-hari para petani dan keluarganya, karena rasa lapar atau kebutuhan anak anak petani untuk sekolah tidak dapat menunggu pulihnya bisnis kopi Gayo. Sekali lagi, peran serta semua pihak diperlukan agar para petani Gayo dapat terus bertahan menjadi petani kopi.
Menangani bencana Sumatera bukan hal sederhana. Dibutuhkan kecerdasan dan daya tahan untuk mengatasi masalah yang timbul dalam jangka waktu yang memadai. Lebih dari itu, tidak cukup hanya menyatakan ini itu yang salah dan menjadi penyebab bencana. Mencari solusi terbaik, yang memadukan usaha untuk keluar dari kubangan dampak saat ini sekaligus menjadi bagian dari usaha mengurangi risiko bencana serupa di masa depan merupakan tantangan yang sebenarnya. Semoga kita mendapat petunjuk dan kesabaran untuk menjalaninya termasuk untuk merehabilitasi dan merekonstruksi kopi Gayo.—
Penulis adalah Guru Besar Agribisnis FEM IPB. Ketua Umum Perhepi 2011-2017. Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Indonesia 2019-2023. Wakil Menteri Pertanian 2010-2011. Wakil Menteri Perdagangan 2011-2014. Dirut BPDP Sawit 2015-2017. Komisaris Utama RNI 2021-Juli 2023. Ketua Dewan Pengawas Perum BULOG Juli 2023-November 2023. Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya/Executive Chair Trubus Bina Swadaya Grup 2018-2023. Direktur Utama Perum BULOG Desember 2023-September 2024.
*Tulisan ini disadur dari situs web pribadi penulis: https://bayukrisnamurthi.id/perspektif/detail/rehabilitasi-agribisnis-kopi-gayo












