Oleh: Alja Yusnadi
Ini sudah tanggal awal Januari 2026. Apakah Kita sudah melalui tahun 2025 dengan baik? Mungkin Iya, mungkin juga ada yang melaluinya dengan kurang baik. Saya sendiri, ada beberapa capaian yang masuk katagori baik, dan ada juga yang mesti dilanjutkan di 2026. Yang kurang baik, diantaranya adalah “terbengkalai” ruang visual ini. Mudah-mudahan, pengelolaan website ini jadi labih baik. Paling tidak, beberapa rubrik bisa terisi.
Sebenarnya, pergantian tahun ini adalah sesuatu yang biasa dan menjadi rutinitas. Namun, perenungan mesti kita lakukan, buka apa-apa, biar hidup ini tidak sekedar hidup, karena, kata Buya Hamka, jika hidup sekedar hidup, Kera pun juga hidup. Tentu, ucapan tersebut tidak dalam rangka mencari persamaan atau perbedaan manusia dengan Kera.
Di penghujung 2025, hidrometereologi melanda Aceh dan Sebagian Sumatera. Ini bencana ekologis terparah, minimal yang terekam dalam pikiran saya. Ketidak seimbangan alam sudah menunjukkan akibatnya. Bagaiman pohon kayu besar yang telah dipotong melaju Bersama air yang tidak mampu diserap oleh akar kayu menghantam apa saja yang ada di depan. Rumah hancur, kebun tertimbun. Ini juga harus menjadi refleksi.
Lalu, perenungan apa yang perlu kita lakukan? Bagi saya, pergantian tahun sekaligus menandakan pergantian usia, karena kelahiran saya tidak lama berselang setelah pergantian tahun. Usia 40, tentu tidak muda lagi juga belum begitu tua. Setidaknya, pada usia itu, Sudah mulai matang, terutama secara emosional.
Setidaknya, dalam catatan saya, ada beberapa capaian yang layak direnungkan. Pertama, secara personal. Jika kehidupan ini kita sederhanakan menjadi catatan amalan dan catatan keburukan, catatan mana yang lebih dominan? Dalam hal ini, saya tertarik menggunakan perumpamaan yang sering digunakan oleh Otto Samsuddin Ishak, seorang sosiolog. Menurut Otto, yang paling baik itu adalah yang memiliki kesalehan sosial yang tinggi. Hal itu juga yang mendorong dirinya untuk menulis tentang Aceh, terutama di masa konflik bersenjata.
Kedua, secara tugas dan tanggung jawab. Ini berat. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban! Ini tegas. Pertanggungjawaban secara legal-formal, maupun pertanggungjawaban secara moral. Saya berharap, terus dikelilingi oleh orang-orang yang dapat membantu, menginterupsi agar saya tetap di jalur yang tepat.
Dalam kerangka itulah, perenungan perlu dilakukan. Kita harus menagih, terutama kepada diri sendiri. Merenunglah. Merenung sampai menemukan jalur yang tepat dalam frekuensi Ilahiah.
.













