Oleh: Alja Yusnadi
Berakhir sudah pembinaan yang dilakukan oleh Kementrian Dalam Negeri terhadap Bupati Mirwan atas persoalan Anda sudah tahu itu. Kembalinya Bupati Mirwan harus menjadi titik balik bagi arah pemerintahan di Aceh Selatan. Masih ada sisa masa jabatan empat tahun lagi. Mirwan mewarisi kepemimpinan dengan berbagai persoalan. Mulai dari hutang daerah yang sudah menumpuk; tatakelola pemerintahan yang tidak stabil, pelayanan dasar yang belum maksimal, hingga indikator makroekonomi yang tidak begitu menggembirakan.
Saya tidak tahu, apakah Mirwan sepenuhnya mengetahui kondisi Aceh Selatan ini. Yang jelas, Mirwan bertanggungjawab dalam periode kepemimpinannya Bersama Baital Mukadis terhadap perbaikan Aceh Selatan.
Kepemimpinan Mirwan membawa semangat baru, bagaikan obor di Tengah malam yang remang. Banyak masyarakat menitipkan harapan kepada Mirwan, dan karena itu pula dia berhasil menumbangkan calon petahana pada pilkada 2024 lalu.
Setelah dilantik, satu-persatu persoalan mulai muncul kepermukaan. Rupanya, semangat personal tidak cukup dalam mengelola pemerintahan. Tim yang solid-lebih tepatnya birokrat yang solid menjadi faktor utama. Baru mulai menatap, trade-off terjadi. Mirwan harus “menepi” Selama tiga bulan. Selama itu pula, menurut amatan saya, tatakelola pemerintahan seperti kehilangan arah. Birokrasi berjalan sendiri-sendiri tanpa orkestrasi yang rapi.
Konsolidasi birokrasi menjadi titik fokus kelemahan selama ini. Ibaratnya mesin, sebagus apapun mereknya, jika tidak diikuti oleh kinerja komponen di bawahnya, ide besar itu akan tidak akan jalan.
Untuk mengefektifkan kinerja birokrasi, yang pertama sekali adalah mendefenitifkan Sekretaris Daerah (Sekda). Setelah ditinggalkan oleh Cut Sazalisma, sudah beberapa kali jabatan itu di pelaksana tugas-kan.
Sekda adalah pejabat pemegang kendali birokrasi. Kepala Daerah boleh saja memeliki gagasan cemerlang untuk memajukan daerahnya, namun tanpa disokong oleh kinerja birokrasi yang sepadan pencapaian tersebut akan tersendat. Ibaratnya lari estapet, Bupati dan Birokrasi harus sama kencangnya.
Kedepan, siapun yang akan ditunjuk menjadi Sekda nantinya, tentunya harus memiliki pengaruh yang luas terhadap birokrasi di bawahnya. Prasyaratnya adalah memiliki pengalaman dalam mengelola birokrasi. Harus sudah pernah menjabat eselon II di Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten dengan beban kerja yang besar.
Sekda adalah jembatan yang menghubungkan Kepada Daerah dengan Kepala SKPK, dia juga jangkar. Sekda harus kuat, strong leadership.
Beres Sekda, Langkah berikutnya adalah mengembalikan fungsi asisten. Asisten itu yang membantu sekda dalam mengkoordinasikan program dan kegiatan, seperti Menko-lah lebih kurang. Bupati Mirwan harus mengubah “imej”, asisten itu bukan tempat parkir birokrat tua menjelang pensiun. Asisten harus ditempatkan birokrat yang masih segar, yang memiliki daya jelajah yang tinggi. Demikian juga dengan staf ahli. Berikan mereka beban dantanggung jawab.
Sekda, Asisten I, Asisten III, Asisten II, staf ahli. Beres itu semua, perkuat BAPPEDA, BPKD, Inspektorat.
Bappeda adalah dapur perencanaan. Mimpi Pembangunan daerah yang sering di sampaikan pada saat kampanye harus diterjemahkan secara teknokratik oleh BAPPEDA. Beriringan dengan itu, keberadaan BPKD juga sangat vital. Perencanaan Pembangunan harus selaras dengan kekuatan fiscal. BPKD bukan hanya mengelola, dia juga merencanakan pendapatan. Sejalan dengan itu, peran Inspektorat juga sangat penting. Inspektorat ini menjalankan fungsi evaluator, internal.
BAPPEDA-BPKD-Inspektorat adalah trisula. Perencanaan-Keuangan-Pengawasan internal. Ke tiga isntansi ini harus diisi oleh birokrat yang kompeten bukan inpoten. Memiliki kapastias-integritas-loyalitas.
Berikutnya, dengan alasan efektivitas dan efisiensi, Bupati Mirwan harus segera mendefenitifkan seluruh jajarannya. Kita sudah menghabiskan setahun pertama dalam situasi birokrasi pelaksana tugas. Di tahun kedua ini perangkat kerja sudah terbentuk.
Retorika Maju dan Produktif harus kita atur ulang. Pilih beberapa program strategis yang akan kita urus dalam sisa masa jabatan ini. Saran saya, fokus saja pada peningkatan layanan Kesehatan, Pendidikan, dan pelayanan administrasi.
Selasa, 10 Maret, Bupati Mirwan memilih untuk melaksanakan apel gabungan Bersama para ASN sebagai hari pertamanya. Harapan kita, selama empat tahun kedepan terjadi perbaikan di Aceh Selatan. Selamat Bekerja Bupati Mirwan.













