• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Alja Yusnadi
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY
No Result
View All Result
Alja Yusnadi
No Result
View All Result
Home Kolom AY

Ekonomi Pancasila di Tengah Percaturan Ekonomi Dunia

Alja Yusnadi by Alja Yusnadi
Oktober 25, 2021
in Kolom AY, Mata AY, SuA
0
Ilustrasi

Ilustrasi

0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Alja Yusnadi

Pandemi Covid-19 telah berlangsung hampir dua tahun. Situasi ini membuat perekonomian dunia terpuruk. Indonesia, pada tahun 2020 mengalami kontraksi selama tiga kwartal berturut-turut, pertumbuhan ekonomi negatif.

Sepertinya, beberapa negara sudah mulai membuka penerbangan internasional, mereka sudah siap untuk kembali berkompetisi, siap untuk berproduksi. Pandemi telah menyebabkan kinerja ekonomi menurun, menukik tajam, ke dalam. Alat-alat produksi tidak bergerak. Tenaga kerja menganggur. Situasi ini menyebabkan berkurangnya Agregat Demand dan Agregat Suplay. Perekonomian lesu.

Dalam hal ekonomi, seperti biasanya, selalu ada beberapa kekuatan ekonomi dunia. Ada saja kekuatan politik yang berkelindan dengan kekuatan ekonomi dari beberapa negara yang memaksa negara lain, terutama negara berkembang untuk mengikuti skenario politik-ekonominya.

Dominasi Amerika Serikat dan China belum bisa dibendung dalam hal “monopoli” ekonomi dunia. Melalui “Proxy”nya, kedua kekuatan besar ini selalu “ikut campur” dalam ekonomi negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Sebagai negara yang memiliki cadangan energy: modal sumberdaya alam, seperti nikel (bahan baku baterai:litium) yang melimpah, Batu Bara, Gas dan Minyak Bumi, Indonesia harus menjalankan ekonomi-politik diri sendiri (baca:Pancasila) dalam menghadapi percaturan ekonomi-politik global. Apalagi, Indonesia juga memiliki populasi penduduk terbanyak setelah China, Amerika, India. Indonesia memiliki modal untuk menjadi kekuatan alternatif.

Tidak hanya itu, kekuatan Indonesia juga dari sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Varian turunan dari kelapa sawit tersebut dapat menjadi sumber energy baru. Itu baru beberapa sektor, masih banyak sektor lain yang dimiliki oleh Indonesia.

Modalitas ini, tentunya tidak mampu menggerakkan kekuatan ekonomi, tanpa dibarengi dengan sekelumit kebijakan lainnya. Kebijakan yang berlandaskan pada sebuah komitmen yang tinggi untuk mengembalikan seluruh kekayaan alam untuk kepentingan rakyat Indonesia seperti termaktub dalam Konstitusi kita. Indonesia harus mampu merumuskan apa yang kita sebut dengan Ekonomi Pancasila.

Mengapa Pancasila?

Pancasila memiliki sejarah dan akar yang kuat. Istilah itu bukan muncul tiba-tiba pada saat sidang BPUPKI. Pancasila bukan barang baru. Dianya ditemukan dari perjalan panjang bangsa ini, yang oleh Bung Karno pada saat itu menjawab pertanyaan Ketua sidang, di sampaikan dalam pidato yang gegap gempita.

Sejak saat itulah, Pancasila menjadi Konsensus, kesepakatan para pendiri bangsa. Pancasila menjadi falsafah dasar berdirinya Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, Bahasa, agama, dan seterusnya. Pancasila lah yang menjadi perekat.

Lalu, bagaimana dengan Ekonomi Pancasila? Istilah ini setidaknya pernah diperkenalkan oleh Dr. Emil Salim. Secara konseptual, ekonomi Pancasila ini menjadi penengah dari konsep ekonomi kanan yang menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar dan ekonomi kiri yang sepenuhnya diatur oleh negara.

Barangkali, dalam praktiknya ekonomi Pancasila ini belum diterjemahkan dalam sebuah konsep ekonomi yang komplek seperti teori-teori ekonomi pada umumnya. Namun, diskursus mengenai ekonomi Pancasila ini tidak boleh berhenti. Salah satu ekonom yang paling serius menggali Ekonomi Pancasila ini adalah Prof. Mubyarto. Pemikirannya itu telah dituangkan ke dalam buku yang berjudul “Ekonomi Pancasila, Gagasan dan kemungkinan.” Gagasan Mubyarto itu juga telah dilanjutkan oleh pembelajar yang lain melalui tulisan-tulisan ilmiah.

Prof. Didin S. Damanhuri, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University juga telah menulis tenang Ekonomi Pancasila. Selanjutnya, Arif Budimanta melalui bukunya “Pancasilanomics” juga telah menulis tentang Ekonomi Pancasila.

Begitulah, sebagai sebuah ilmu, Ekonomi Pancasila terus diperbincangkan. Apalagi, saat ini, Indonesia telah memiliki BPIP yang berwenang mengelola agar Pancasila sebagai Idiologi harus masuk keseluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu diperkuat lagi dengan kehadiran BRIN. Harapannya, perkawinan BPIP dengan BRIN ini dapat melahirkan terobosan-terobosan baru membumikan Pancasila, termasuk dalam hal Ekonomi Pancasila.

Untuk menerjemahkan konsep dan arah perekonomian Indonesia masa depan, sudah saatnya gagasan Ekonomi Pancasila diteruskan menjadi sebuah konsep. Ekonomi Pancasila harus menjadi paradigma baru dalam ilmu ekonomi. Paradigma baru ini seperti yang disampaikan Thomas Kuhn, harus menjadi cara pandang baru dalam ilmu pengetahuan yang dapat menyelesaikan masalah. Dalam hal ekonomi klasik dan neo klasik, salah satu reduksionisnya adalah ketimpangan. Pertumbuhan ekonomi secara makro hanya menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah, namun tidak menggambarkan keadilan ekonomi. Dimana, faktor-faktor produksi yang diukur dalam PDB dikuasai oleh beberapa persen penduduk saja.

Melalui konsep Ekonomi Pancasila, Indonesia harus tampil sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia. Di sisi lain, ekonomi Pancasila juga haru mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pemerataan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketika bicara pertumbuhan ekonomi, negara tidak hanya mempertimbangakn pengusaha saja, petani saja, atau masyarakat konsumen saja.

Melalui ekonomi Pancasila, tidak boleh ada lagi rakyat Indonesia yang tidak bisa mengakses alat-alat produksi. Ekonomi Pancasila harus mejadi sistem ekonomi yang menguntungkan semua pihak. Ekonomi Pancasila harus menjadi sistem ekonomi yang membuat Indonesia berdikari, berdiri di atas kaki sendiri sehingga membuat Indonesia berdaulat secara politik, dan berkepribadian secara budaya.

Previous Post

Tujuh Keajaiban Teknologi Pertanian

Next Post

Homo Udut

Alja Yusnadi

Alja Yusnadi

Related Posts

Fokus Tiktok
Kolom AY

Fokus Tiktok

Januari 5, 2026
Rehabilitasi Agribisnis Kopi Gayo
Sahabat AY

Rehabilitasi Agribisnis Kopi Gayo

Januari 5, 2026
Co-alescere
Kolom AY

Co-alescere

Januari 3, 2026
DPRK Aceh Selatan Usul BUMD Ambil Alih Tambang Usai Dihentikan Bupati
Kolom AY

2026

Januari 3, 2026
Kopi Gayo: Jejak Sejarah, Warung Kopi, hingga Identitas Orang Aceh
Desa AY

Kopi Gayo: Jejak Sejarah, Warung Kopi, hingga Identitas Orang Aceh

Juli 10, 2024
Menikmati kopi arabika gayo (poto: kemenlu.go.id)
Desa AY

Kopi Gayo Mentas di Estonia

Juli 10, 2024
Next Post
Ilustrasi (Lektur.id)

Homo Udut

Resen Postingan

Pansus DPRK Aceh Selatan Periksa Perizinan dan Dampak Lingkungan PKS

Pansus DPRK Aceh Selatan Periksa Perizinan dan Dampak Lingkungan PKS

Januari 14, 2026
DPRK Aceh Selatan Gelar Rapat dengan BPKD Terkait Utang,Ini Hasilnya

DPRK Aceh Selatan Gelar Rapat dengan BPKD Terkait Utang,Ini Hasilnya

Januari 14, 2026
Pansus DPRK Akan Cek Perkebunan Opersional di Aceh Selatan

Pansus DPRK Akan Cek Perkebunan Opersional di Aceh Selatan

Januari 12, 2026
Pansus DPRK Aceh Selatan Sorot Izin, Amdal dan CSR Perusahaan Perkebunan, Besok Turun Lapangan

Pansus DPRK Aceh Selatan Sorot Izin, Amdal dan CSR Perusahaan Perkebunan, Besok Turun Lapangan

Januari 12, 2026

Anggota DPRK Dorong Pemkab Lanjutkan Pembahasan Penanggulangan Banjir di Aceh Selatan

Januari 10, 2026
Alja Yusnadi  Canangkan Pantai Cemara Gunung Terbang Sebagai Destinasi Wisata Unggulan

Alja Yusnadi : Sikap DPRK Aceh Selatan Mengacu Kepada Aturan dan Perundang-undangan

Januari 10, 2026
Alja Yusnadi

© 2024 Alja Yunadi - Rumah Menulis AY theme by Eza.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY

© 2024 Alja Yunadi - Rumah Menulis AY theme by Eza.