• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Alja Yusnadi
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY
No Result
View All Result
Alja Yusnadi
No Result
View All Result
Home Kolom AY

Habis Mendukung, Ramai-ramai Pula Menikung

Alja Yusnadi by Alja Yusnadi
Agustus 31, 2020
in Kolom AY
0
Habis Mendukung, Ramai-ramai Pula Menikung
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Alja Yusnadi

“Kau yang mulai, kau yang mengakhiri”. Itu lirik lagu, penyanyi dan penciptanya adalah Rhoma Irama, si raja dangdut yang tersohor itu. Ungkapan rasa bang haji kian lengkap dengan “kau yang berjanji, kau pula yang mengakhiri”.

Saya tidak tahu perasaan apa yang sedang melanda ketua Partai Idaman itu disaat menciptakan lagu, entah urusan cinta, bisa saja. Sebenarnya, urusan janji dan khianat itu tidak hanya kita temui dalam percintaan, tapi dalam setiap lakon kehidupan.

Urusan khianat ini, Aceh memiliki pengalaman yang aduhai. Dalam setiap kisah heroik perjuangan, selalu diselip kehadiran generasi model panglima Tibang. Salah satu contoh, perlawanan Cut Nyakdin harus berakhir disaat pengikutnya bersekutu dengan penjajah. Walau ada yang menyatakan, pengikut tersebut kasihan, karena Cut Nyak sudah terlalu tua untuk bertahan di dalam hutan yang juga sudah sakit-sakitan. .

Dalam percaturan politik kekinian, tembang bang haji itu cocok mewakili perasaan Edi Syaputra alias Obama dan Samsul bahri alias Tiyong. Obama dan Tiyong merupakan dua punggawa disaat pemenangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada saat pilkada 2017 lalu.

Tidak tanggung-tanggung, Tiyong merupakan ketua tim pemenangan, sekalius ketua harian PNA, partai lokal dimana Irwandi yang menjadi ketua umumnya. Bisa dibayangkan sebesar apa perjuangan Tiyong sebagai orang nomor satu dalam pemenangan.

Belakangan, hubungan Tiyong dengan Irwandi merenggang. Puncaknya, disaat Irwandi masih dalam tahanan KPK, Tiyong bersama pentolan PNA lainnya menggelar Kongres Luar Biasa. Alhasil, Tiyong menjadi ketua.

Situasi kian runyam, disaat tampuk pimpinan tertinggi dikendalikan Nova Iriansyah. Sebagai wakil gubernur, dia secara otomatis menjadi pelaksana tugas, disaat Gubernur berhalangan. Nova sudah dua tahun memikul beban berat itu sendiri, mengendalikan 17 Triliun APBA tanpa pendamping.

Sebagai pengusung, PNA semacam terdepak dari lingkaran kekuasaan. Tidak berlebihan memang. Lihat saja, Fraksi PNA di DPRA bergabung bersama gerbong Fraksi Partai Aceh, mereka menyebut perkongsian politik ini sebagai Koalisi Aceh Bermartabat. KAB.

Sesama partai lokal dan memiliki embrio yang sama, PNA dan PA pernah bersiteru-tegang. Dimulai sejak awal berdirinya PNA dan keikutsertaan mereka pada pemilu legislative 2014 hingga pemilihan kepala daerah 2017.

Saat itu, PNA bersama Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Damai Aceh dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengusung pasangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Sementara PA bersama Gerindra, PAN, PKPI mengusung Muzakir manaf-TA. Khalid.

Walau memiliki kursi mayoritas di DPRA, PA kalah bertarung dengan PNA dalam pilkada gubernur. Sejak saat itu, PA menabuh genderang, menjadi mitra kritis, semacam oposisi bagi pemerintah Irwandi-Nova.

Begitu juga dengan Obama. Pengusaha asal Bireun ini merupakan pendukung Irwandi-Nova dan juga ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kabupaten Bireun. Walau akhirnya, Obama diberhentikan oleh DPP karena dianggap bertentangan dengan aturan dasar partai.

Secara pasti saya tidak mengetahui pengkhianatan seperti apa yang sedang mereka lakoni. Yang jelas, Obama, Tiyong beserta beberapa kawan, beramai-ramai ke rumah dinas wakil gubernur Aceh. Rumah dinas ini dihuni oleh Nova. Sampai-sampai mereka bertahan hingga malam.

Dibalik kesamar-samaran itu, publik dapat menangkap satu hal terang, tersumbatnya komunikasi. Obama dan Tiyong adalah dua orang yang lebih dikenal, masih banyak yang menyatakan pendukung dan relawan yang hendak membuat perlawanan.

Saya tidak tahu apa yang mereka ributkan?. Seharusnya, sebelum menentukan dukungan, mereka harus mengetahui platform, visi-misi yang diperjuangkan. Idealnya, perlawanan dilakukan, disaat pemimpin yang diperjuangkan melenceng dari garis perjuangan.

Dalam narasi yang berkembang, hampir tidak saya temukan persoalan melencengnya perjuangan. Yang dominan adalah ketidak pedulian kepada pendukung dan relawan. Dalam bab ini memang aburd sekali, bagai meluruskan benang yang kusut.

Entah kepedulian dalam wujud apa. jika kepedulian dimaksud bantuan uang tunai, tentu tidak bisa dibayangkan, berapa butuh uang. Sekiranya, yang dibutuhkan masyarakat adalah kebijakan yang berpihak kepada mereka, bukan hanya pengusaha.

Sayup-sayup, perpecahan itu diduga persoalan penguasaan proyek APBA. Sebagaimana kita tahu, di Aceh, pengusaha kontruksi, rerata mengharapkan belas kasihan pemerintah melalui proyek pembangunan.

Para elit, sebagian besar menentukan dukungan politik yang menjadi pertimbangan adalah sejauhmana bisa mengakses proyek plat merah itu, bukan pergulatan gagasan. Maka tidak jarang kita temukan, pimpinan daerah auto pilot.

Dalam demokrasi liberal seperti yang sedang kita lakoni sekarang ini, gugatan-gugatan semacam itu bagai sarapan pagi, sangat mudah kita temukan. Balas budi politik sudah menjalar sampai kepada pemilihan kepala desa.

Para pendukung dijanjikan sejumlah jabatan yang mentereng, dilvel pemerintah desa, sebut saja kepala seksi dan kepala urusan. Jabatan di perdagangkan.

Nah, bagaimana kaitannya Tiyong dan Obama tadi?. Kita tentu memiliki takaran masing-masing. Bagi pendukung Nova, gerakan kedua politisi ini dianggap salah alamat, sementara menurut sebagian yang lain, tindakan keduanya merupakan bentuk perlawanan terhadap ketidak adilan.

Bagi yang bukan kedua-duanya, minimal seperti saya, ini adalah bentuk lain dari anak haram system kontestasi kepala daerah yang liberal dan mahal. Kehadirannya tidak diharapkan, namun tak bisa ditolak, akibat kegatalan.

Setelah mendukung, ramai-ramai pula menikung. Jika sudah begini, tak salah kata bang haji, “kau yang berjanji, kau pula yang mengingkari”, kau yang mendukung, kau pula yang menikung. []

Previous Post

Warna-warni Pesepeda

Next Post

AY, Selera yang (Pernah) Hilang

Alja Yusnadi

Alja Yusnadi

Related Posts

Fokus Tiktok
Kolom AY

Fokus Tiktok

Januari 5, 2026
Co-alescere
Kolom AY

Co-alescere

Januari 3, 2026
DPRK Aceh Selatan Usul BUMD Ambil Alih Tambang Usai Dihentikan Bupati
Kolom AY

2026

Januari 3, 2026
Kopi Gayo: Jejak Sejarah, Warung Kopi, hingga Identitas Orang Aceh
Desa AY

Kopi Gayo: Jejak Sejarah, Warung Kopi, hingga Identitas Orang Aceh

Juli 10, 2024
Pecco Juara
Kolom AY

Pecco Juara

Juli 10, 2024
Ilustrasi: Pantau.com
Kolom AY

Mendag Goreng Sawit

Juli 10, 2024
Next Post
Alja Yusnadi (Dok. Pribadi)

AY, Selera yang (Pernah) Hilang

Resen Postingan

Pansus DPRK Aceh Selatan Konsultasi ke Pemerintah Aceh soal IUP Perusahaan Perkebunan

Pansus DPRK Aceh Selatan Konsultasi ke Pemerintah Aceh soal IUP Perusahaan Perkebunan

Januari 31, 2026
Pansus Perkebunan DPRK Aceh Selatan Kunjungi Pemerintah Aceh

Pansus Perkebunan DPRK Aceh Selatan Kunjungi Pemerintah Aceh

Januari 31, 2026
Perdalam Kasus Perusahaan Perkebunan, Pansus DPRK Aceh Selatan Kunjungi Pemerintah Aceh

Pansus Perkebunan DPRK Aceh Selatan Kunjungi Pemerintah Aceh

Januari 31, 2026
Perdalam Kasus Perusahaan Perkebunan, Pansus DPRK Aceh Selatan Kunjungi Pemerintah Aceh

Perdalam Kasus Perusahaan Perkebunan, Pansus DPRK Aceh Selatan Kunjungi Pemerintah Aceh

Januari 31, 2026
Pansus DPRK Aceh Selatan: Empat Dekade Beroperasi, PT Asdal Dituding Langgar Perintah Gubernur dan Abaikan Rakyat

PT Asdal Dinilai “Kibuli” Warga, Kangkangi Keputusan Gubernur Aceh Tidak Kewajiban Plasma

Januari 24, 2026
Tak Penuhi Kewajiban Plasma 30 Persen, Pansus DPRK Aceh Selatan: Kalau tak Mampu Lebih Baik Berhenti

Tak Penuhi Kewajiban Plasma 30 Persen, Pansus DPRK Aceh Selatan: Kalau tak Mampu Lebih Baik Berhenti

Januari 24, 2026
Alja Yusnadi

© 2024 Alja Yunadi - Rumah Menulis AY theme by Eza.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY

© 2024 Alja Yunadi - Rumah Menulis AY theme by Eza.