• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Alja Yusnadi
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY
No Result
View All Result
Alja Yusnadi
No Result
View All Result
Home Feature AY

Aceh dan Prioritas Doni Monardo

Alja Yusnadi by Alja Yusnadi
September 29, 2020
in Feature AY
0
Kepala BNPB dan Ketua Satgas Covid-10, Letjen Doni Monardo

Kepala BNPB, Ketua Satgas Covid-19, Letjen Doni Monardo (Republika)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Alja Yusnadi

Perhatian Presiden Joko Widodo terhadap Aceh belum luntur. Setelah meresmikan jalan Tol, Jokowi mengirim 1 juta masker kepada masyarakat Aceh—yang di Gebrak Masker tempo hari– terakhir mengutus Doni Monardo ke Aceh.

Doni adalah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekaligus menjadi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Di BNPB Doni meringankan dampak bencana, di Satgas Covid-19, Doni meringankan dampak Korona.

Oleh karena dua tugas itu, saya yakin hampir tidak ada yang tidak mengenal Doni, kecuali anak-anak dan lansia, itupun kalau mereka tidak membaca berita.

Apa yang dapat kita tangkap dari dikirimnya Jendral Bintang Tiga itu ke Aceh? Dari kacamata positif, tentu banyak kemudahan yang Aceh dapat dari kedatangan Doni. Sebut saja rencana penambahan alat tes swab, rumah sakit lapangan khusus Korona, dan semacamnya.

Itupun, kalau Kepala Pemerintah Aceh mau memanfaatkannya, sebagaimana Kota Surabaya.

Di kota pahlawan itu, sudah ada laboratorium lapangan—untuk tes swab– yang diasistensi oleh Doktor Dokter Andani, dosen Universitas Andalas.

Atau, kedatangan Doni memberi sinyal negatif, Aceh sedang tidak baik-baik saja: Pemerintah Aceh tidak mampu menekan angka penyebaran virus yang sangat mematikan itu. Paling tidak menurut Pemerintah Pusat.

Bisa jadi, salah satu dari asumsi itu benar, dua-duanya benar, bisa juga tidak samasekali. Kalau boleh, tentu saya– dan juga Anda– mengharapkan asumsi yang pertama.

Itu asumsi. Faktanya, kasus positif terus bertambah, bukan hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh Indonesia, bahkan dunia, kecuali China mungkin juga Vietnam.

Presiden telah menetapkan 8 Provinsi prioritas penanggulangan Covid-19: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Papua.

Tergetnya, di daerah prioritas itu harus berkurang angka penularan, peningkatan angka kesembuhan, dan penurunan angka kematian.

Bukan alang-kepalang, untuk mewujudkan rencana tersebut, Presiden Jokowi menduetkan Doni dengan Luhut Binsar Panjaitan yang tidak lain dan tidak bukan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi.

Entah apa relevansinya Menko Maritim dan Investasi dengan penanganan Korona. Bisa saja Luhut dari sisi ancaman dan peluang ekonomi dan Doni dari sisi kebencanaan. Yang pasti, dua-duanya pasukan khusus.

Biasanya, kalau sudah Menteri Luhut turun tangan, sebagian besar masalah selesai. Begitu digdayanya Opung Luhut.

Dalam rapat bersama Presiden, Doni mengusulkan Aceh dan Bali masuk sebagai daerah prioritas, sehingga berjumlah 10 Provinsi.

Doni, ke Aceh bukan hanya membawa diri, ikut serta beberapa orang ahli dan beberapa bantuan, seperti Alat Pelindung Diri, Masker, Ventilator, Hand Sanitizer.

Kedatangan Doni seakan membawa hawa baru bagi masyarakat Aceh, terutama yang selama ini sudah berteriak, memberi solusi, tapi tidak didengar. Sebagai contoh, terkait Laboratorium Tes Real Time Polymerase Chain Reaction (RT PCR).

Pemerintah Pusat akan membangun di tiga lokasi sesuai zonasi wilayah Aceh. Bisa saja untuk wilayah Barat-Selatan, Tengah-Tenggara dan Timur-Utara. Harapanya, tidak perlu antri berhari-hari apalagi berminggu-minggu menunggu hasil swab.

Perkara pentingnya laboratorium lapangan ini sudah pula saya singgung di AY Corner: Belajar dari Andani.

Doni juga akan menyediakan hotel sebagai tempat isolasi.

Semua biaya itu ditanggung Pemerintah pusat, bukan Pemerintah Aceh.

Andai saja, Pemerintah Aceh –melalui refocusing kegiatan dan realokasi anggaran–melakukan upaya seperti yang disampaikan Doni, bisa saja angka penularan Korona bisa ditekan, tidak seperti hari ini sudah lebih 4 ribu orang.

Tentu, angka itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan DKI Jakarta atau Jawa Timur yang sudah lebih 71 ribu dan 43 ribu.

Membandingkan Aceh dengan kedua kota besar itupun tidak seimbang.

Aceh bukan kawasan padat penduduk, bukan kota besar, bukan pusat industri, dan bukan pula sentra ekonomi. Seharusnya, bisa ditekan.

Mungkin karena itu juga, Safrijal Gam-gam—Ketua Fraksi PNA di DPRA—menangkap sinyal kedatangan Doni ke Aceh sebagai kegagalan Pemerintah Aceh menanggulangi Korona.

Menurut Anda?

Selamat bekerja Jendral Doni!.. [Alja Yusnadi]

Previous Post

Merah Jambu

Next Post

Perayaan Tahunan

Alja Yusnadi

Alja Yusnadi

Related Posts

DPRK Desak Pemda Segera Cairkan Gaji ASN
Feature AY

DPRK Desak Pemda Segera Cairkan Gaji ASN

Januari 19, 2026
Pansus DPRK Akan Cek Perkebunan Opersional di Aceh Selatan
Feature AY

Pansus DPRK Akan Cek Perkebunan Opersional di Aceh Selatan

Januari 12, 2026
Feature AY

Anggota DPRK Dorong Pemkab Lanjutkan Pembahasan Penanggulangan Banjir di Aceh Selatan

Januari 10, 2026
Ini Laporan Banleg DPRK Terkait Dua Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Selatan
Feature AY

DPRK Aceh Selatan Dukung Kebijakan Bupati Mirwan Prioritaskan BUMD untuk Mengelola Tambang

Januari 9, 2026
Feature AY

Alja Yusnadi : PLN Harus Bertanggung Jawab atas Pemadaman Listrik

Januari 8, 2026
Ini Laporan Banleg DPRK Terkait Dua Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Selatan
Feature AY

Bupati Mirwan Gelar Mutasi, Ini Kata Anggota DPRK Aceh Selatan

Januari 7, 2026
Next Post
Monumen Pancasila

Perayaan Tahunan

Resen Postingan

APKASINDO Aceh Selatan Apresiasi Pansus DPRK, Dorong Pengawasan Menyeluruh Seluruh Perusahaan Sawit

APKASINDO Aceh Selatan Apresiasi Pansus DPRK, Dorong Pengawasan Menyeluruh Seluruh Perusahaan Sawit

Januari 19, 2026
Beroperasi Sejak 1986, PT Asdal Diduga Abaikan Plasma, DPRK Aceh Selatan Minta HGU Dievaluasi

Beroperasi Sejak 1986, PT Asdal Diduga Abaikan Plasma, DPRK Aceh Selatan Minta HGU Dievaluasi

Januari 19, 2026
Beroperasi Sejak 1986, PT Asdal Disebut Langgar Aturan Karena Tak Sediakan Kebun Plasma Untuk Masyarakat

Beroperasi Sejak 1986, PT Asdal Disebut Langgar Aturan Karena Tak Sediakan Kebun Plasma Untuk Masyarakat

Januari 19, 2026
PT Asdal Prima Lestari Diduga Langgar Aturan Plasma Perkebunan

PT Asdal Prima Lestari Diduga Langgar Aturan Plasma Perkebunan

Januari 19, 2026
Pansus DPRK Aceh Selatan Kunjungi Perusahaan Pengolahan Kelapa Sawit

Pansus DPRK Aceh Selatan Kunjungi Perusahaan Pengolahan Kelapa Sawit

Januari 19, 2026
Pansus Cek Perusahaan Pengolahan Kelapa Sawit di Aceh Selatan

Pansus Cek Perusahaan Pengolahan Kelapa Sawit di Aceh Selatan

Januari 19, 2026
Alja Yusnadi

© 2024 Alja Yunadi - Rumah Menulis AY theme by Eza.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang AY
  • Tentang Situs
  • Daftar Isi
    • CePAY
    • Desa AY
      • BUMDesa
      • Profil Desa
      • Tokoh Desa
    • Feature AY
    • Galery AY
    • Haba AY
    • Jak AY
    • Kolom AY
    • Mata AY
    • Rumeh AY
    • Sahabat AY
    • Wawancara AY
  • Kontak AY

© 2024 Alja Yunadi - Rumah Menulis AY theme by Eza.