Kabinet Cemekam

0
120
Ilustrasi by Fajar
Ilustrasi (Fajar)

Oleh: Alja Yusnadi

Jika Anda mengikuti dinamika Pilpres 2019 lalu pasti merasakan nuansa perseteruan, apalagi kalau Anda merupakan bagian dari tim pemenangan, minimal simpatisanlah. Seolah-olah, kalau kandidat Anda kalah Indonesia ini akan mundur ke belakang, sebaliknya kalau menang seoalah-olah akan membawa Indonesia terbang, tinggi.

Parahnya lagi, ada yang menakutkan, jika kandidatnya kalah, tidak ada lagi yang meyembuh Tuhan. Keterlaluan.

Entah bagaimana sabab-musababnya, dinamika itu sampai menarik nama-nama hewan untuk mewakili kedua belah pihak. Cebong untuk pendukung Jokowi-Ma’ruf, Kampret untuk pendukung Prabowo-Sandiaga.

Cebong adalah katak dalam ukuran kecil. Kampret adalah Kelelawar dalam ukuran kecil. Baik Cebong amupun Kampret sama-sama jenis hewan dalam ukuran kecil sebelum bermetamorfosa menjadi Katak dan Kelelawar. Entah tujuan filosofis apa yang hendak dicapai oleh pencipta istilah itu.

Pasca pemilihan, kedua pendukung masih terbawa suasana pilpres. Situasi agak sedikit mereda di saat Prabowo bersedia menjadi Menteri dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf.

Lebih adem lagi, setahun kemudian, disaat Sandi memutuskan untuk bergabung di dalam kabinet. Seperti yang terjadi sekarang. Prabowo-Sandi adalah penantang Jokowi-Ma’ruf di Pilpres–yang menurut Irma Chaniago– berdarah-darah itu.

Setelah Sandi bergabung, para pendukung—minimal melalui medsos—mulai mencair, meratapi kondisi di masa kampanye dulu. Dari sekian pendapat itu, yang menggelitik saya adalah Cemekam, singkatan dari Cebong merekrut Kampret.

Jadilah Kabinet Cemekam itu—istilah dalam senda gurau. Namun, situasi membuat suasana lebih mencair. Apalagi, ekses pilpres hampir saja mengoyak—meminjam istilah Anis—tenun kebangsaan yang sudah dirajut 75 tahun silam.

Ini hal baru dalam tradisi politik Indonesia. Bergabungnya Gerindra ke kabinet hanya menyisakan PKS di luar pendukung pemerintah, sesekali Demokrat.

Apa yang dapat kita cermati dari bergabungnya pentolan “oposisi” tersebut? Jawaban nya bisa beragam. Semuanya memiliki kemungkinan.

Sebanarnya, Prabowo—dan Gerindranya—memiliki hubungan baik dengan Megawati—dan PDI Perjuangannya. Kedua Ketua Umum partai ini pernah berpasangan pada Pilpres 2009 lalu, melawan SBY-Boediono.

Jadi, tidak terlalu heran jika suatu saat—setelah pilpres—mereka bersatu kembali.

Dugaan saya, yang paling berat masuk ke kabinet itu adalah Sandi, seperti statemennya pada media setahun yang lalu. Sandi tetap bertahan di luar pemerintah.

Masuknya Sandi tentu bukan tiba-tiba, pasti melalui proses panjang dan sempat beberapakali mental.

Ada kemungkinan, yang mengajak Sandi masuk kabinet adalah Erick Tohir sang Menteri BUMN itu. Sandi dan Erick berkawan sudah lama. Sama-sama kaya, sama-sama pengusaha, sama-sama kuliah di Amerika pula.

Mereka bertiga—plus Menteri Perdagangan M. Lutfi—sudah dekat sejak lama, seperti foto lawas yang diposting Erick di media sosial.

Perkawanan mereka itu sempat jeda sesaat. Sandi mendampingi Prabowo, sementara Erick menjadi komandan tempur Jokowi-Ma’ruf. Luthfi secara kasat mata memilih netral, tidak ke Sandi tidak pula ke Erick. Entah di belakang layar.

Ibarat pertandingan, kali ini Erick lebih beruntung, jagoannya menang. Erick di dapuk sebagai Menteri BUMN, dan saya yakin, Erick juga mempunyai pengaruh yang kuat.

Masuknya Sandi tentu ibarat pisau bermata dua. Sebagai pengusaha dan relatif masih berusia muda, saya yakin Sandi memiliki gagasan cemerlang untuk memimpin kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Mungkin juga Sandi bisa menerapkan Oke Oce nya.

Pariwisata menjadi sektor yang paling babak belur karena pandemi. Mungkin, Presiden Jokowi menunjuk Sandi yang pengusaha sukses itu untuk memperbaiki sektor pariwisata pasca pandemi.

Minusnya, membuat pengusung, entah itu partai politik atau perseorangan meradang, seperti yang disampaikan Irma itu. Sebagai juru-bicara Tim Kampanye Nasional, Irma dan kawan-kawanlah yang menjadi bumper Jokowi-Ma’ruf. Menangkis  serangan lawan yang datang dari 7 penjuru mata angin.

Di sinilah kejelian Presiden Jokowi dibutuhkan. Satu sisi tidak harus tersandra dengan kepentingan partai pengusung. Di sisi lain, Jokowi  harus memberdayakan kader-kader potensial yang ada di partai pengusung untuk terlibat dalam mengurus negara ini. Jokowi harus mampu berada di atas ombak, jangan masuk ke dalam gelombangnya.

Masuknya Prabowo dan Sandi ke kabinet menjadi preseden baru bagi politik Indoneisa. Kekuasaan tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri, harus di check. Pada taraf itu saya setuju.

Dalam sistem presidensial seperti Indoensia ini, bukan pemandangan langka ketika Arteria Dahlan, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan—yang merupakan partai pengusung Jokowi-Ma’ruf—mengkritik kinerja pemerintah.

Bukan perkara aneh pula ketika Fadli Zon mengkritik hampir semua kebijakan Pemerintah. Padahal, Ketua Umum dan beberapa koleganya di partai itu sudah menjadi bagian dari pemerintah.

Pada level tertentu, fraksi-fraksi pendukung pemerintah di parleman kadang-kadang tidak satu suara dalam menentukan sikap politik legislasinya.

Kalau sudah begitu, saya kira tidak terlalu masalah bagi demokrasi jika mayoritas partai politik mendukung pemerintah. Tinggal Presiden saja mempertimbangkan. Lebih efektif atau memberatkan.

Justru, yang kalang-kabut itu “oposisi” ekstra perlementer. Mereka kecewa berat ketika capres dan cawapres yang mereka dukung di pilpres dulu bergabung ke dalam kabinet.

Mereka kehilangan tokoh sandaran. Sementara, untuk memunculkan tokoh dari internal belum cukup kuat. Baik dari sisi elektabilitas maupun biaya politik. Seseorang yang diagungkan dalam jabatan informalnya belum tentu memenangkan pertarungan pemilihan elektoral. Itulah yang menjadi ketakutannya.

Selain partai politik, masih banyak lembaga lain yang dapat mengkritik kebijakan pemerintah. Mulai dari NGO, Ormas, hingga akademisi pun demikian dengan kekuatan masyarakat.

Jadi, berkaitan dengan Kabinet Cemekam itu saya kira hal yang biasa. Justru langkah positif agar tenun kebangsaan tidak terkoyak. Yang kita harus pahami adalah, pesta lima tahunan itu untuk mencari pemimpin yang terbaik dari yang terbaik, atau yang paling sedikit buruknya, bukan ajang untuk mengadu Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan. Selamat bekerja Kabinet Cemekam!..[Alja Yusnadi]