Mega

0
103
Megawati dan Gus Dur
Megawati dan Gus Dur

Oleh: Alja Yusnadi

Jika ada politisi di Indonesia yang sudah merasakan asam-garam, pahit-manis dan suka duka politik, tidak berlebihan kiranya menempatkan Megawati di urutan paling atas.

Bahkan, sejak kelahirannyapun sudah disambut Guntur. Suara petir seperti ingin membelah langit. Bacalah petikan wawancara Bung Karno dengan Cindy Adams mengenai kelahiran putrinya itu:

“Aku takkan melupakan peristiwa malam 23 Januari 1947 itu. Malam itu, guntur seperti hendak membelah angkasa. Istriku terbaring di kamar tidur yang telah disediakan rumah sakit. Tiba-tiba lampu padam. Atap di atas kamar runtuh. Awan yang gelap dan berat melepaskan bebannya. Sontak, air hujan mengalir ke dalam kamar seperti sungai. Dokter dan para juru rawat mengangkat Fatmawati ke kamar tidurnya sendiri. Dia basah kuyup seperti juga perkakas dokter, kain seprei. Pendeknya, semua basah. Di dalam kegelapan malam, hanya dengan cahaya pelita, lahirlah putri kami. Kami menamakannya Dyah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri.”

Mega lahir setelah dua tahun diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia oleh ayahnya. Dia melewati itu di masa anak-anak dan remaja.

Dua puluh tahun kemudian, situasi berubah drastis, jungkir balik. Sang ayah mulai dikucilkan oleh rezim Orde Baru.

Kekuasaan Bung Karno mulai dilucuti. Petaka dimulai dengan lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Maksudnya Maret tahun 1966.

Entah apa isi sebenarnya. Ada yang mengatakan, surat itu berisi peralihan kekuasaan, dari Bung Karno ke Harto, ada juga yang menyebutkan perintah Bung Karno kepada TNI untuk menertibkan pemberontakan Komunis. Saya belum pernah membaca surat aslinya. Entah memang ada, entah akal-akalan.

Yang pasti, pada tanggal 30 September 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan bersenjata, 7 orang Jenderal meninggal. Itulah yang kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Revolusi.

Sejak saat itu, keberadaan Bung Karno dikaitkan dengan pemerontakan itu. Walaupun, menyisakan tanya, bagaimana Bung Karno melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan yang sedang di tangannya.

Tapi itu bukan pokok soal dalam tulisan ini. Sejak kekuasaan di tangan Harto, kehidupan keluarga Bung Karno di bawah bayang-bayang pemerintah. Dalam tekanan. Bung Karno saja, menjelang kematiannya diperlakukan tidak layak.

Tidak sebanding dengan apa yang telah diperjuangkannya untuk republik ini. Dia menjadi tahanan rumah. Tenaga medis yang menanganinyapun jauh dari layak.

Mega dewasa sempat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran. Tidak selesai. Di masa itu berdekatan dengan dilucutinya kekuasaan Bung Karno dan bertanda proyek desoekarnoisasi dimulai. Apapun yang berbau Bung Karno harus disingkirkan-minimal dibelokkan, dikaburkan.

Beberapa tahun berikutnya, Mega kembali kuliah di Universitas Indonesia. Situasi masih belum stabil, dan kuliah Mega kembali terputus. Pada masa itu pula Bung Karno meninggal dunia.

Sejak kuliah, Mega bergabung di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Dari situ naluri politiknya diasah.

Pada 10 Januari 197, Partai Nasional Indonesia (PNI)-Partainya Bung Karno berfusi dengan beberapa partai lain. Lahirlah partai baru dengan nama Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Sebelumnya, pada pemilu 1971 yang menjadi pemilu pertama semasa Harto berkuasa diikuti oleh 9 partai politik, plus satu ormas: Golongan Karya. Hasilnya, Golkar menang banyak.

Untuk mengukuhkan jalan politiknya, Orde Baru melakukan siasat penggabungan partai yang dianggap “sejenis”. Maka lahirlah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hasil dari fusi partai-partai islam. Fusi PPP lahir lima hari sebelum lahirnya fusi PDI.

Idealnya, fusi itu menjadi tiga partai: Partai berhaluan Islam, Partai berhaluan nasionalis, dan partai berhaluan Kristen.

Gagasan itu ditolak oleh Partai Kristen Indonesia, dan Partai Katolik. Akhirnya, kedua partai itu difusikan ke dalam Partai yang berhaluan nasionalis.

Pada pemilu berikutnya, tahun 1977, pemilu diikuti oleh dua partai politik: PDI dan PPP dan satu golongan :Golkar.

Sejak saat itu pula Golkar menjadi juara pada setiap pemilu. Operasinyapun tidak tanggung-tanggung, melibatkan seluruh struktur pemerintahan, dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi.

Mega sendiri mulai terjun ke kancah politik praktis sekitar tahun 1986. Dia mengawalinya dari bawah: Wakil Ketua DPC Jakarta Pusat. Setahun kemudian, Mega dipilih menjadi angota DPR dari PDI.

Sejak difusi, PDI menjadi partai yang paling sedikit perolehan suara. Fusi ini tidak didasari dari satu platform yang sama, beda dengan partai berhaluan islam. Bagaimana mungkin PNI yang nasionalis digabung dengan Perkindo, bagaimana IPKI yang sangat anti PKI digabung bersama Murba, dan seterusnya. Kondisi ini membuat PDI konflik internal.

Setelah satu periode di DPR, Mega mulai mendapatkan panggung politiknya. Internal partai, terutama dari poros nasionalis meminta Mega untuk memimpin PDI. Puncaknya, pada Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya 22 Desember 1993. Mega terpilih sebagai Ketua Umum.

Pemerintah meradang. Mulai melakukan banyak tekanan. PDI di obrak-abrik dari dalam. Upaya melengserkan Mega terus dilakukan. Terjadilah Kongres Medan yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum.

Simpatisan Bung Karno yang selama ini bagai api dalam sekam mulai menemukan muaranya. Sejak saat itu, Mega menjadi simbol perlawanan terhadap orde baru.

PDI terbelah dua, yang pro Mega menyebut diri sebagai PDI Promeg. Mereka menguasai DPP yang berkantor di Jln. Diponegoro. Masa PDI Soerjadi yang dibekengi aparat menyerang DPP.

Peristiwa berdarah itu terjadi pada tanggal 27 Juli 1996 atau dikenal dengan peristiwa kudatuli.

Pada pemilu 1997, suara PDI terkuras. Banyak yang lari ke PPP.

Demokrasi Indonesia menemukan bentuk barunya. Terjadilah reformasi. Harto mengundurkan diri dari Presiden pada Mei 1998. Loyalisnya tidak mampu lagi membendung amarah rakyat yang sudah ditindas lebih dari tiga puluh tahun.

Pemilu kembali digelar pada tahun 1999. Sebanyak 48 partai menjadi peserta. Salah satunya adalah PDI Perjuangan. Yang berasal dari PDI Promeg tadi. Megawati didapuk menjadi Ketua Umum.

MPR memilih Gus Dur sebagai Presiden, di dampingi Mega sebagai Wakil Presiden. Padahal, pada saat itu partainya Mega meraih sekitar 33 persen suara. PDI menjadi pemenang pemilu. Di tengah jalan, Gus Dur dipaksa mundur, juga oleh MPR. Mega naik menjadi Presiden, didampingi Hamzah Haz.

Itulah puncak karir Mega. Seterusnya, dia mengurus partai. Secara berturut-turut PDI perjuangan menjadi runner up pada pemilu 2004, urutan tiga pada pemilu 2009. Dan Mega memilih jalan di luar pemerintah sejak 2004 sampai 2014. Waktu itu Pemerintah di pimpin SBY.

Pada pemilu 2014 dan 2019, PDI Perjuangan kembali menjadi pemenang pemilu. Satu-satunya partai yang tiga kali menang pemilu.

Itulah Mega. Yang sudah melahirkan banyak pemimpin lokal dan nasional. Melalui tangan dinginnya, lahirlah kepala daerah seperti Abdullah Azwar Anas, Hasto Wardoyo, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, dan sederet nama lain.

Bahkan, Presiden Joko Widodo lahir dari naluri kepemimpinan Mega. Mulai dari merekomendasikan di Pilkada Solo, Pilkada Jakarta, hingga dua kali Pilpres.

Tentu, masih sangat banyak kiprah dan prestasi Mega. Baik di dalam maupun di luar negeri. Sebagai manusia, tentu Mega bukan tanpa cela. Namun, lebih dari sebagian umurnya dihabiskan untuk mengurus negara. Baik melalui partai yang didirikannya, sebagai Presiden, maupun sebagai guru bangsa.

Sebagaimana dikatakan Bung Karno, sejak lahir, Mega sudah disambut Guntur yang seolah membelah langit. Selamat milad Ibu Mega. 23 Januari 1947-23 Januari 2021