Kupiah Politik

0
165
Bupati Bireun Dr. Muzakar A. Gani dan KSP Moeldoko
Bupati Bireun Dr. Muzakar A. Gani dan KSP Moeldoko (Foto: facebook Moeldoko)

Oleh: Alja Yusnadi

Tiba-tiba, Moeldoko—Pak Moel– ramai lagi. Seorang teman saya yang simpatisan Pak Moel kembali bersemangat, beberapa orang yang dulu mendukung Partai Demokrat versi KLB kembali riang-gembira.

Ada dua peristiwa yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan: Partai Demokat versi KLB menggugat Menteri Hukum dan HAM ke PTUN, Bupati Bireun yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Bireun mengkupiahi Pak Moel dengan kupiah meukutop–kupiah motif  Aceh.

Jadilah, kedua peristiwa itu dihubung-hubungkan, dikait-kaitkan. Seolah-olah, Bupati Bireun sedang memainkan politik dua kaki. Disebut demikian, karena beberapa bulan lalu, AHY, Ketua Umum Partai Demokrat berkunjung ke Bireun dan juga dikupiahi oleh Bupati Muzakar A. Gani.

Sekilas, apa yang dikait-kaitkan itu memang ada hubungannya. Kalau kita lihat lebih jauh, peristiwa “kupiah” itu tidak terjadi tiba-tiba, ada beberapa pertemuan sebelum pertemuan yang terjadi hari itu.

Ada yang hilang dari beberapa foto yang beredar. Sebelumnya, kawan saya yang lain juga memposting foto yang saya anggap lebih utuh. Dua kawan saya itu ikut mendampingi Bupati Muzakar untuk bertemu langsung dengan Kepala Staf Presiden itu, Pak Moel itu.

Ya, beberapa bulan yang lalu, kawan saya itu ikut memfasilitasi Muzakar untuk berkomunikasi dengan KSP. Kemarin itu, pertemuan luring yang langsung dihadiri Pak Moel adalah puncak pertemuannya, semoga akan ada pertemuan-pertemuan lanjutan, yang lebih teknis.

Terlepas dari substansi, ada hal lain yang menarik untuk dicermati. Apa itu? Kupiah. Sudah menjadi kebiasaan, dalam hubungan “bilateral” masing-masing pihak menyerahkan cenderamata.

Sebenarnya, tradisi semacam itu bukan hal baru. Dalam hal apapun, tukar-menukar cenderamata sudah lazim dilakukan, termasuk olah raga, tukar-menukar bendera, tukar-menukar seragam, dan tukar menukar cindramata.

Dalam urusan politik juga sama. Kerajan Aceh menghadiahi Kesultanan Turki sicupak Lada, yang dibalas dengan Meriam oleh Turki.

Lobi yang paling bergengsi itu justru ada dalam tradisi pernikahan masyarakat Aceh. Dimulai dari proses meminang atau “intat tanda”, “juru lobi” masing-masing pihak saling berbalas pantun yang disertai dengan “asoe talam” yang isinya berbagai macam pernak-pernik, mulai dari pakaian dalam, alat kosmetik, sampai pakaian luar calon dara baro.

Itu bukan gratifikasi, apalagi sogok-menyogok, jadi tidak usah lapor KPK. Kesadaran masyarakat telah membentuk sebuah tradisi, bagaimana nilai-nilai itu tumbuh bersama dengan masyarakat itu sendiri.

Apa yang dilakukan Bupati Muzakar juga sama. Sepertinya, Muzakar ingin memberikan kesan yang mendalam kepada Pak Moel. Benar saja, Pak Moel memposting di media sosialnya peristiwa “mengkupiahi” itu.

Saya duga, dalam kapasitasnya sebagai Bupati, Muzakar sedang melakukan lobi politik. Pak Moel sehari-hari berkantor dekat sekali dengan Presiden. Dan, Bireun lagi membutuhkan sokongan Presiden untuk membangun daerahnya.

Tidak lama lagi, Aceh bersama dengan Sumatera Utara akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON). Kalau tidak salah, salah satu cabang yang diperlombakan di Aceh adalah sepak bola.

Bireun, jika benar-benar ingin menjadi salah satu tuan rumah sepakbola cukup beralasan. Bireun memiliki sejarah persepakbolaan yang gemilang, PSSB—Klub sepakbola Bireun– pernah menjadi salah satu klub yang disegani di Aceh, bahkan dalam kancah sepak bola nasional.

Oleh karena itu, saya melihat, kupiah itu bentuk lobi Bupati Muzakar kepada Pak Moel dalam konteks yang demikian. Ya, tapi bagaimanapun, Pak Moel itu adalah bagian dari Partai Demokrat versi KLB yang akan menggugat Menteri Hukum dan HAM itu. Kalaupun nanti, terseret-seret, saya kira masih banyak stok kupiah meukutop yang siap disematkan kembali.

Sebelumnya, kupiah meukeutop juga pernah di pakai Ganjar Paranowo yang Gubernur Jawa Tengah itu. Tentu, diplomasi kupiah ini harus dimainkan dengan apik, oleh politisi Aceh ketika berhadapan dengan politisi nasional. Yang lebih bagus lagi, bukan hanya motif saja milik Aceh, produksinya juga harus di Aceh, agar efek ekonominya lebih terasa. Semoga lobi kupiah Bupati Muzakar berhasil, dan stadion megah akan hadir di Bireun…[Alja Yusnadi]