Juara Binder

0
11
Binder (Foto: Youtube)
Binder (Youtube)

Oleh: Alja Yusnadi

Selama ini, saya hanya teringat Nelson Rolihlahla Mandela dan Piala Dunia ketika mendengar negara Afrika Selatan.

Nelson, adalah Presiden Afrika Selatan yang terkenal dengan gagasan anti-apartheid. Sebelumnya, negara itu didera konflik rasisme, kulit hitam-kulit putih. Nelson menjadi Presiden Afrika Selatan pertama dari kulit hitam.

Dia memimpin negara itu dari 1994-1999. Dunia mengakui kehebatan Nelson, sedikitnya Nelson menerima 250 penghargaan, termasuk Nobel Perdamaian.

Oleh karena itu, Nelson terkenal ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Saya sering membaca berita dan mendengar nama Nelson. Padahal, pada saat itu saya masih anak-anak.

Selanjutnya, saya mengenal Afrika Selatan sebagai negara penyelenggara—tuan rumah—piala dunia sepak bola antar negara. Afrika Selatan menjadi tuan rumah kejuaraan olahraga terbesar itu pada tahun 2010.

Megahnya, Afrika Selatan merupakan negara Afrika pertama yang menjadi tuan rumah, walau pada akhirnya negara ini juga tidak berhasil lolos dari fase group.

Itulah dua peristiwa yang saya ketahui—tanpa harus membuka referensi—mengenai Afrika Selatan.

Sepuluh tahun setelah menjadi tuan rumah piala dunia, Afrika Selatan kembali saya dengar. Tidak segegap gempita dua hal sebelumnya. Namun cukup untuk mengibarkan bendera negara dari benua Afrika tersebut.

Kali ini bukan gegara politik, bukan juga sepakbola. Namun ajang olahraga motor besar atau Moto GP.

Dialah Brad Binder. Pembalap Red bull KTM Factory Racing ini mampu meraih podium pertama pada balapan yang dilaksanakan di sirkuit Brno, Republik Ceko.

Saya bukan pengamat moto GP. Pengetahuan saya sangat terbatas mengenai olahraga ini. Saya tidak begitu paham dengan teknik atau istilah yang digunakan dalam moto GP.

Menontonnya pun saya tidak rutin, kapan sempat saja. Begitu juga di saat saya menyaksikan Binder podium.

Saya justru terkejut di saat membaca nama pembalap di layar kaca. Binder pada saat itu masih di urutan 2. Saya belum familiar dengan namanya, berbeda dengan nama-nama seperti Valentino Rosi, Marq Marquez, Johan Zarco dan sederet nama lain.

Dalam moto GP sendiri, saya mengharapakna Rosi juara. Entah kenapa, saya ingin sekali melihat rider gaek itu kembali naik podium. Pada race kali ini, Rosi finis pada posisi ke 5.

Entah apa yang menyebabkan Rosi belum pensiun sebagai rider, mungkin dia bisa jadi pelatih, pemilik klub atau mengembangkan karir di tempat lain.

Selama ini para rider didominasi Spanyol dan Italia. Sebut saja seperti Rosi, Andrea Dovizioso, Danilo Petruci, Francesco Bagnaia, Franco Morbidelli adalah rider dari negara Italia.

Spanyol juga ada nama-nama besar seperti Marc marquez, Aleix Espargaro, Pol Espargaro, Alex Marquez, Iker Lecuona, Joan Mir, Alex Rins, Maverick Vinales, Tito Rabat.

Di tengah dominasi Spanyol dan Italia, hadirlah beberapa nama lain, seperti Johan Zarco, Fabio Quartararo, dari Perancis. Ada nama Miguel Oliveira dari Portugal. Cal Crutclow dari Inggris. Takaaki Nakagami dari Jepang. Jack Miller dari Australia. Karel Abraham dari Ceko, dan Brad Binder dari Afrika Selatan.

Binder tampil memukau pada seri Ceko 2020. Bendera Afrika Selatan berkibar di podium utama. Diikuti Italia dan Perancis.

Pemuda 24 tahun ini merupakan rookie di moto GP 2020. Pada musim lalu dia menjadi runer up pada kejuaraan moto2. Binder, meraih podium pada balapannya yang ketiga.

Jika penampilan Binder konsisten, tentu akan menjadi warna tersendiri dalam industri moto GP ke depan.

Politik apartheid sudah tidak adalagi di Afrika Selatan. Menarik juga melihat Binder meraih podium pada race-race berikutnya. Mengimbangi dominasi Spanyol dan Italia.

Apalagi, minggu depan, race akan berlangsung di Austria, negara asal KTM—timnya Binder—ini tentu menjadi keuntungan bagi KTM dan Binder.

Mengharapkan Binder podium, sama artinya bagi saya mengharapkan Indonesia tampil sebagai penyeimbang China dan Amerika dalam percaturan global. Makanya saya menulis soal Binder.

Jika dalam persaingan global susah terlepas dari kepentingan dua negara adikuasa itu, tidak salah juga Indonesia mencoba seperti Binder ini, agar Mandalika, sirkuit yang sedang dipersiapkan itu tidak sia-sia kehadirannya.

Selamat Binder…[]