Rokok dan Strategi Dadek

0
60
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Alja Yusnadi

Belakangan ini, isu rokok kembali menguasai jagat informasi Aceh. Masyarakat pengguna sosial media ramai-ramai menjadikannya meme.

Ada juga gambar T. Ahmad Dadek yang sedang menghisap cerutu, gambar Nova Iriansyah yang lagi merokok.

Nova adalah Gubernur Aceh dan Dadek adalah Kepala Bappeda nya. Pernyataan Dadek mengenai rokok direspon beragam. Maksudnya, Dadek menyampaikan, salah satu penyebab kemiskinan yang di lansir BPS baru-baru ini adalah rokok.

Pembelanjaan masyarakat yang paling banyak adalah beras, kemudian rokok. Beras adalah kebutuhan pokok, jadi wajar menempati urutan pertama. Nah, ini masalahnya rokok. Kenapa pula dia paling banyak dibelanjakan oleh masyarakat, termasuk yang 15 persen itu.

Perihal rokok ini memang pelik. Sebagian pecandu itu sudah tidak bisa lepas dari rokok. Ada orang, setelah bangun pagi, yang dicarinya bukan air untuk mencuci muka, tapi rokok, kalau ada satu lagi kopi.

Inilah maksud Dadek. Jika pembiayaan rokok dapat dikurangi atau dialihkan ke pembelanjaan yang lain, seperti makanan berkalori, mungkin kemiskinan di Aceh akan turun.

Sepertinya, ada yang terpotong atau kurang lengkap dari pernyataan Dadek. Melalui laman media sosialnya, Dadek memberi klarifikasi, dan menganggap wartawan telah beropini terhadap pernyataan Dadek.

Lalu, apakah dengan mengharapkan masyarakat berhenti merokok, masalah akan selesai? Tentu tidak.

Jika orang yang memiliki penghasilan lebih banyak tentu tidak akan menjadikannya miskin karena merokok.

Saran saya, Dadek fokus saja ke strategi. Bagaimana pemerintah dapat membuka jalan masyarakat untuk menambah penghasilan.

Bukan apa-apa, selain sia-sia, menghimbau masyarakat untuk mengurangi atau tidak merokok sama sekali, bukanlah tugasnya pemerintah. Kecuali, sudah ada regulasinya. Kalau memang sudah begitu, ada cara yang paling gampang. Apa itu? Tutup pabrik rokok.

Tapi, masalahnya bukan hanya di rokok dan tidak sesedehana itu. Seperti tadi, kalau pendapatan masyarakat tinggi, jelas tidak masalah.

Selain ajakan untuk berhenti merokok, masih ada 5 strategi lain yang sudah disampaikan Dadek ke publik.

Pertama, Meningkatkan pendapatan masyarakat. Saya kira poin ini semua kita setuju. pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana strategi itu diterjemahkan ke dalam Bahasa program dan anggaran di APBA? APBK? APBDes? Inilah tugasnya Dadek sebagai Kepala Bappeda, memimpin orchestra perencanaan pembangunan berbasis pengentasan kemiskinan.

Jika Pemerintah Aceh memiliki nama dan alamat masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, langsung saja diinterfensi. Jadikan mereka sasaran program.

Kedua, Meningkatkan Sumber Daya Manusia. Selain beasiswa, kartu jaminan kesehatan, yang harus ditingkatkan sumberdaya itu, ya, sumberdaya masyarakat yang masuk dalam katagoi miskin tadi.

Mereka memang sudah tidak berdaya. Dan, kelompok yang sedikit berada di atas garis kemiskinan, kalau oleng sedikit, langsung menjadi miskin.

Ketiga, Meningkatkan transaksi ekonomi masyarakat dengan cara menaikkan nilai tambah. Mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi, dan bahan siap pakai. Keempat, Menjaga stabilitas harga pangan. Kelima, Melakukan penanganan bencana alam.

****

Rokok itu bahan dasarya tembakau, di linting menggunakan kertas atau daun. Waktu kecil, saya suka melinting tembakau kering milik kakek saya.

Saya sering mendengar rokok jenis itu disebut rukok pucok atau rukok on—rokok pucuk atau rokok daun.

Kalau tembakaunya kita linting seukuran kelingking, pas sampai ditenggerokan pasti tersangkut, batuk. Makanya, saya hanya melinting sekedarnya saja.

Ada bermacam produk tembakau ini, mulai dari rukok on, rokok filter, rokok kretek, yang jumlah merk nya tidak ketulungan banyaknya, sampai ke rokok elit serupa cerutu.

Produsennyapun bermacam-ragam. Kalau rukok on tadi, produsennya adalah petani tembakau lokal. Selebihnya, itulah industri raksasa yang pemilik sahamnya masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Dalam suplai cain, salah satu rantainya adalah petani tembakau. Sehingga, industri rokok ini selain dikuasai oleh para konglomerat, juga menjadi tumpuan harapan petani tembakau.

Pada suatu titik, rokok ini menjadi gaya hidup, lalu berubah menjadi kebutuhan hidup. Jika ada mekanisme pasar yang bekerja di alam bawah sadar masyarakat, rokok salah satunya.

Berbekal pengalaman pribadi, saya pertama sekali merokok karena mengikuti gaya hidup teman sebaya. Lama-lama, yang namanya nikotin pasti membuat candu.

Itu pula yang saya duga dialami oleh sebagian besar pecandu rokok. Celakanya adalah, di saat menjadi candu, bagi sebagian orang, tanpa doi seperti ada yang kurang. Pada titik inilah rook menjadi benalu sekaligus menjadi akar.

Sebelum Industri rokok ditutup, upaya “melarang” merokok sedikit cuma-cuma. Lebih baik, anggaran untuk edukasi bahaya merokok itu digunakan untuk kegiatan produktif lainnya.

Kalau mau diatur, yang pertama sekali itu ya para pengatur, aparatur pemerintah. Misalnya, mengeluarkan Pergub dilarang merokok bagi Aparatur Sipil Negara, entah itu selama di kantor, atau di mana saja. Ini bukan perkara kelompok miskin, tapi sebagai suri tauladan.

Kalau saya boleh usul, dari keenam strategi Dadek tadi, yang paling urgen adalah membukan akses lapangan pekerjaan dan peningkatan sumberdaya manusia. Keduanya bisa bersinergi. Membuka lapangan kerja saya tau bukan pekerjaan mudah, karena Aceh bukan daerah industri.

Yang paling memungkinkan itu adalah sektor pertanian-kelautan-perikanan dan Usaha Mikro Kecil. Dan, saya juga yakin, penyumbang terbanyak angka kemiskinan juga dari sektor itu.

Dadek adalah model birokrat yang memulai karir dari jenjang paling bawah. Saya pernah membaca tulisan Dadek di saat dia masih menjadi Camat di salah satu Kecamatan di Aceh Barat. Lalu, Dadek berkiprah di Kabupaten dengan menjadi Kepala Bappeda Aceh Barat.

Sekarang, Dadek berada di puncak karir sebagai Kepala Bappeda Provinsi Aceh. Di Kepala dan tangan Dadeklah persoalan kemiskinan Aceh ini berada. Jika Dadek berhasil membuat formulasi angaran daerah yang pro orang miskin, cita-cita itu akan terwujud, kalau tidak, ya sama saja seperti yang sudah-sudah.

Oiya, saya sudah berhenti menjadi perokok aktif selama 4 kali Maulid Nabi Muhammad SAW. Yang penting, jangan tergantung kepada rokok atau kepada apapun. Bergantunglah kepada Tali-Nya, yang ujungnya tersambung ke pangkal…[Alja Yusnadi]